You need to enable javaScript to run this app.

10 BUDAYA MALU

  • Sabtu, 08 November 2025
  • Lukman Dwi Saputra
  • 0 komentar
10 BUDAYA MALU

 

MALU SIFAT MANUSIAWI

ya memang benar bahwasanya sifat malu adalah sifat manusiawi yang dimilliki oleh manusia, aku mau bicara tapi malu, aku mau bernyanyi tapi malu, aku mau mengungkapkan perasaan tapi malu, bahkan kata seorang penyair muslim " sungguh aku malu, berdoa kepada tuhan meminta sesuatu namun aku masih belum sempurna bertaqwa kepadanya''. rasa malu ini memang sangat penting bagi kehidupan manusia karena rasa malu dapat menjadi sebuah karakter. tak heran jika kita melihat bagaimana sifat karakter manusia ditentukan oleh bagaimana mereka malu. bahkan secara biologis tuhan telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan berdasarkan jenis kelamin. realitas ini menjadi alasan biologis kenapa antar laki-laki dan perempuan terkadang malu-maluan untuk bertemu, berbicara bahkan bersentuhan. jadi, malu merupakan sifat alami yang melekat pada diri manusia yang dapat membentuk karakter dirinya sehingga menjadikanya sebuah alasan bagaimana dia akan hidup. ia terdorong namun juga terhimpit tergantung bagaimana dia beradaptasi.

namun dalam artikel ini penulis mengajak pembaca untuk memahami bagaimana sebuah tanggungjawab manusia akan menjadi tanggungjawab yang memalukan jika hal tersebut tidak dilakukan dengan baik. tentunya dalam sebuah kehidupan yang berbudaya ia memiliki seperangkat aturan yang melekat pada manusia yang akan membawanya pada sebuah kebijaksanaan. kebijaksanaan inilah bagaimana kemudian sesama manusia akan menilai bahwa dia mungkin "tidak tau diri atau tidak tau malu... " karena dia tidak dapat hidup dalam aturan yang sudah ditentukan.

KOTROL SIFAT MALU

pada dasarnya manusia bertindak atas dasar hawa nafsunya, setiap kecenderungan baik ataupun buruk (tanpa ia sadari) pasti punya sebab nafsu yang dikendalikanya. pengendalian nafsu ini akan sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan yang dia bangun untuk dirinya sendiri. jika kebijaksanaanya tinggi maka ia cenderung baik, namun jika kebijaksanaanya rendah mungkin akan cenderung tidak baik. sebagai contoh, seorang anak kecil yang selalu hidup teratur dan terdidik oleh lingkunganya akan berbeda dengan akan kecil yang hidupnya tidak teratur dan karuan. jadi manusia dapat mengontrol sifat malunya melalui sebuah kebijaksanaan, bagaimana ia mencoba mengolah perasaanya, bertindak atas budi pekerti, berkata secara sopan santun dan menjadi pribadi yang dapat bertanggungjawab.

MEMBANGUN BUDAYA MALU

ada hal menarik yang dapat kita pelajari dari seorang kyai di Pondok Pesantren yaitu tazkiyatun nafs, adalah sebuah proses pembersihan diri melalui keistiqomahan dalam menjalani tirakat ibadah, KH Achmad Chalwani selaku Pengasuh Pon Pes An-Nawawi Berjan tidak pernah bosan selalu mengingatkan kepada santrinya untuk istiqomah dalam menjalani tirakat di pesantren, seperti sholat berjamaah, wiridan, membaca al quran, melanggengkan wudhu, berdzikir. bahkan dalam kehidupan sosial dan budaya itu juga bisa menjadi tirakat kita, seperti menjaga kebersihan, memakai pakaian yang suci, rapai dan sopan, dan saling menghormati satu sama lain terutama kepada guru.

ya, seperti itulah sedikit gambaran bagaimana tindakan-tindakan kecil yang dapat membangun jati diri manusia bisa jadi budaya baik yang dapat mengontrol diri kita agar punya rasa malu untuk melakukan hal-hal yang kurang pantas. namun juga memiliki dampak positif baik secara individu maupun sosial. memang ada hal yang selalu melekat pada diri manusia seperti, keluarga, adat, peraturan, hukum dll. yang dapat mempengaruhi seperti apa jati dirinya dalam menjalani kehidupannya dimana pada hal yang melekat itu pasti ada aturan-aturan sendiri didalamnya.

dalam sebuah intitusi pendidikan misalnya, dimanapun itu pasti ada nilai kedisiplinan yang dibangun disitu, seperti berangkat tepat waktu, berseragam lengkap, dapat menyelesaikan tugas dengan baik, izin jika berhalangan hadir dll. kedisiplinan yang dibangun itu merupakan satu bagian dari proses membangun budaya yang baik agar dapat menjadi contoh bagi setiap pendidik ataupun peserta didik. namun yang namanya budaya memang dibangun bukan atas dasar keterpaksaan, artinya setiap orang dalam mengendalikan dirinya setidaknya membiasakan diri untuk selalu patuh terhadap aturan-aturan yang melekat padanya agar menjadi nilai disiplin yang baik, terutama disiplin secara kultural (tanpa pengaruh orang lain..). nah begitulah kemudian yang menjadi titik baliknya adalah bagaimana kita akan merasa malu jika melanggar sebuah aturan kedisiplinan yang ada. 

MTs An-Nawawi 01 Berjan dalam upayanya membangun budaya kedisiplinan, berikhtiyar menerapkan 10 Budaya Malu bagi seluruh warga madrasah

  1. TERLAMBAT MASUK MADRASAH DAN PULANG SEBELUM WAKTUNYA
  2. TIDAK MASUK MADRASAH TANPA ALASAN
  3. SERING MINTA IZIN TIDAK MASUK MADRASAH
  4. TIDAK IKUT APEL
  5. SERING MENINGGALKAN KANTOR TANPA ALASAN
  6. BEKERJA TANPA TERPROGGAM
  7. BEKERTA TANPA BERTANGGUNGJAWAB
  8. PEKERJAAN TERBENGKALAI
  9. TIDAK MEMAKAI SERAGAM SESUAI JADWAL
  10. TIDAK BERTATA KRAMA

embarassedembarassedembarassed

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Muh Taufik Fauzi, S.H.I., M.Pd.

- Kepala Sekolah -

Selamat datang di situs resmi Madrasah Tsanawiyah Berjan Purworejo, semoga situs ini bisa sedikit memberi gambaran serta informasi seputar...

Berlangganan